Pulau Maratua

September 17, 2009 1 comment


Dengan terburu-buru kami sarapan pagi itu, lalu bergegas menuju perahu yang akan kami tumpangi ke pulau Maratua. Perahu tersebut adalah perahu milik warga, yang akan menjemput keluarga besar menghadiri pesta pernikahan. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam.

Pulau Maratua tampak terbentang di hadapan kami, dengan sedikit pantai di bagian luarnya. Pulau Maratua berbentuk huruf U, yang kedua ujungnya menghadap ke laut Sulawesi. Pulau Maratua terdiri atas 5 kecamatan/desa, yaitu Bohe Bukut, Bohe Silian, Payung-Payung, Teluk Telulu dan Tong Bahaba. Suku asli penduduk adalah suku Bajou atau kadang ditulis Badjau. Di dalam pulau Maratua yang berbentuk U, masih terdapat 4 pulau lain yang berjejer, dan salah satunya adalah pulau yang dikelola warga asing dengan resortnya, dikenal dengan nama Pulau Nabuko – sesuai nama resort tersebut – . Sedang nama asli Pulau Nabuko adalah Pulau Pabahanan.

Perahu bersandar di Bohe Silian, ribuan Bulu Babi menghiasi laut dangkal, membuat kami segan menceburkan diri mendorong perahu yang karam. Laut berwarna lapisan biru toska, biru laut, hijau hingga ungu membuat kami begitu terpesona.

Pasir pantai di pulau Maratua bertekstur lebih kasar daripada pasir pantai Pulau Derawan. Luas pantainyapun lebih sedikit, dengan kontur tanah yang tidak rata. Pulau Maratua sebenarnya berbentuk pulau karang, dimana-mana bisa ditemui batu karang. Bahkan warga membangun fondasi rumah dengan batu karang, dan menyemen dengan pasir pantai, sungguh langkah penghematan luar biasa.

Kami menyusuri desa-desa di Pulau Maratua. Masing-masing desa berjarak sekitar 30menit berjalan kaki. Desa-desa tersebut hanyalah susunan rumah di kiri-kanan jalan setapak yang membelah pulau Maratua. Namun meski dengan ruang gerak terbatas, banyak warga yang masih dapat menggunakan sepeda motor. Tapi tentu saja mereka tidak butuh helm, plat nomor, maupun SIM.

Bukit-bukit di pulau Maratua memiliki banyak gua. Salah satunya adalah gua terbesar, yang menurut mitos didiami oleh seekor gurita raksasa. Menurut warga dahulu kala gurita tersebut hanya muncul sekali, dan kemudian lenyap hingga sekarang. Bukit-bukit tersebut dihuni banyak sekali kera dan hewan hutan lainnya. Keheningan pulau Maratua sangat nyaman untuk dinikmati.

Waktunya berendam!

September 11, 2009 Leave a comment


Waktu membaca novel The Da Vinci Code, disebut-sebut juga nama Kalimantan, mengenai pari Manta-nya. Waktu itu masih tidak terbayang Kalimantan bagian mana. Mendengar kata Kalimantan bisa ada di novel best seller dunia saja rasanya udah berbunga-bunga. Lha kok sekarang baru tahu, Kalimantannya itu ya Kalimantan Timur, propinsi tempat tinggal saya sendiri!.

Ketika tiba waktunya saya bisa berendam – perhatikan sodara-sodara, saya bilang berendam, bukan berenang! ^_^ – saya dan Anggi  mencemplungkan diri di pantai pulau Derawan yang jernih. Mengendap-endap berjalan di belakang penyu-penyu raksasa, yang dalam sekejap ngacir menjauhi kami. Rasanya menyenangkan sekali, karena tentu saja saya jarang berendam di dalam air. Sementara Anggi berenang dengan asiknya.

Berkali-kali bang Agus, pemandu setia kami berteriak dari jembatan, memperingatkan agar kami tidak terlalu jauh ke pantai yang agak dalam. Rupanya pari-pari beracun berkeliaran dengan bebasnya, membahayakan orang-orang yang berenang, sebab sabetan ekornya berbisa. Tapi tentu saja kami tidak akan menemukan pari Manta yang tak beracun di pantai, sebab mereka berukuran besar dan hanya ada di perairan yang lebih dalam. Dan satu lagi, kami harus menghindari kumpulan bulu babi yang juga beracun.

Jujur saja saya tidak pernah ke Sea World, hanya melihat lewat TV. Saya juga tidak pernah snorkeling, dan tidak pernah berenang, meski kota saya adalah kota di garis pantai. Untung saja dalam adegan berendam itu kami bertemu kenalan, yang bersedia meminjami kami kacamata snorkeling secara bergantian. Bahagia sekali melihat jutaan ikan-ikan mungil berwarna-warni. Saya baru tahu kalau ikan yang dari atas terlihat abu-abu, ternyata memiliki warna-warni indah pada sisi kiri kanan tubuhnya, udik yak! Hehe, ya maap. Dengan begitu banyak jenis ikan berseliweran didepan saya, ko jadi terbayang masakan Mama. Bayangin deh, ada ikan Bogor, Biji Nangka, Tongkol, Tembang, Layang, Sardin, Kakap Merah, Kakap Putih, Gembong,  itu kan santapan saya di rumah. Rasanya lucu sekali melihat ikan-ikan santapan saya berenang berputar-putar, seperti mengolok saja.

Cangkang kerang berukuran besar sangat banyak berhamburan di pantai, limbah warga yang memakan isi kerang  (salah satunya malah saya jadikan asbak di rumah). Saya terpesona sekali memandang ikan mungil yang hanya setengah jempol saya, berwarna belang kuning-hitam. Mereka bersembunyian di karang, yang dengan mudah kami tangkap. Dan saya tidak menyangka, ikan-ikan kecil itu cerdik sekali. Ketika saya letakkan dalam cangkang kerang bersama sedikit air laut, dengan penuh semangat si ikan menjentik-jentikkan tubuhnya berkali-kali hingga menedekati tepi cangkang yang kering. Dengan sekali hentakan saja..ceplung…jatuhlah ia kembali ke dalam air laut. Saya hanya bisa melongo, kok ikan ini pintar sekali. Betapa keras dia berjuang kembali ke laut lepas, meski dalam beberapa detik harus menahan napas di udara terbuka. Saya jadi berpikir, ikan saja tidak mau menyerah, apalagi manusia.

Saat kembali ke darat, saya tercengang dengan pemandangan yang lewat didepan saya. Sebuah sosok dengan moncong panjang dan gigi-gigi tajam, digotong hingga 3 orang, panjangnya sekitar 5 meter. Wah sodara-sodara, ternyata itu ikan Barracuda yang baru di angakat dari boat, hasil pancingan salah satu penghuni losmen Danakan. Hiiyy…saya baru tahu Baraccuda itu nyeremin, apa enak dimakan ya??

Derawan, 2007

Categories: Derawan note Tags: ,

Wajah Bajou nan eksotik

September 9, 2009 1 comment


Bajou Kids

Sore hari kami tiba di dermaga Tanjung Batu. Bang Iwan, kenalan Andika sudah menyambut kami di dermaga, bersiap membawa kami ke rumahnya di pulau Derawan. Aduh…tidak disangka perkenalan yang hanya lewat ponsel bisa membawa berkah seperti ini. Jadilah saya, Anggi, Richard dan bang Iwan menumpang speed boat selama sekitar 30 menit ke Derawan. Ongkos Rp 200.000 kami bagi berempat.

Perjalanan sungguh indah. Saya belum pernah melihat laut sebiru itu (utamanya karena saya belum banyak travelling), dan sejernih itu. Batas horizon hampir tidak tampak, karena birunya laut dan birunya langit hampir serupa. Kata orang, kadangkala ikan lumba-lumba berlompatan di  sepanjang jalur Tj. Batu-Derawan. Namun sayang kami tidak melihat satupun.

Sampai di Derawan Richard bertanya’ “Are you going to dive?”. Saya bilang tidak, karena saya tidak bisa berenang. Dengan dahi berkerut dia memandang saya sambil tertawa, “And what will you do in such beautifull island if you can’t even swim??!!”. Aahhh…sebel..sebel..sebel. Emangnya kenapa kalo tidak bisa berenang, daratannya saja indah ko. Tapi saya jadi terpikir juga, terus saya mau ngapain? Mau keliling pulau juga sebentar selesai, wong pulaunya kecil sekali. Berendam di pantai saja? Cuma bikin hitam kulit doang terus pulang? Aduh…ko rasanya sia-sia.

Anak-anak kecil mengikuti kami dan bang Iwan hingga kerumahnya, yang ternyata adalah adik-adik bang Iwan sendiri. Anak-anak itu begitu lucu dengan rambut kusutnya, membuat saya lupa akan Richard, yang berpisah dan menuju penginapan Danakan. Kulit mereka coklat, namun tidak legam. Rambut merah terjemur matahari, ceria berlarian di atas pasir yang panas tanpa alas kaki. Itulah anak-anak suku Bajou, suku asli kepulauan Derawan dan sekitarnya.

Wajah-wajah anak Bajou sungguh unik. Kecantikan alami yang tidak kalah dengan teriknya mentari. Saya jadi teringat salah satu potret kebanggaan National Geographic, yaitu sebuah potret gadis Afghanistan berkerudung dengan wajah coreng moreng karena perang, dengan mata biru bersinarnya yang berani. Kurang lebih seperti itulah wajah anak-anak suku Bajou, dengan kulit cokelat terang, rambut kusut lengket oleh uap air laut, namun dengan mata berani dan super ramah.

Begitupun ketika saya melihat Ibunda bang Iwan, pemilik rumah yang kami tumpangi. Wajahnya cantik eksotik, dengan keramahan luar biasa. Caranya mendidik dan berbicara dengan anak-anak begitu lembut, membuat saya takjub. Begitu indahnya komunikasi ibu-anak di belahan bumi yang rasanya sangat jauh dari perkotaan, menyegarkan otak yang terbiasa dengan grasah-grusuhnya orang-orang kota. Kadang kami merasa tidak enak, sebagai orang asing datang-datang minta tumpangan. Tapi selalu disambut kata-kata lembut. Betapa mereka telah terbiasa dengan pendatang. Tapi yang utama, ikan asin goreng dengan acar timunnya itu lho….aduuhhh….ga tahaaannn…

Lalu saya pikir lagi, untuk menikmati keindahan Derawan kan tidak harus berendam, masih banyak sisi humanis yang bisa digali, dan tidak akan didapatkan diver manapun, sebab mereka selalu sibuk dengan penginapan yang menyediakan speed boat menuju dive spot, tempat mandi yang representative untuk bersih-bersih sehabis nyelam, dan berbagai kebutuhan lainnya yang hanya bisa didapat di penginapan komersil.

Kesimpulan:

Yang tidak bisa berenang, DON’T WORRY BE HAPPY!

Categories: Derawan note Tags: , ,

Ini hari raya Oom!

September 9, 2009 2 comments


Laut lepas Tanjung Batu

15 Oktober 2007, pukul 9.30 pagi kamis ampai di terminal Gayam, Tj. Redeb, Kabupaten Berau. Panas terik menyilaukan. Rasanya semakin ke utara makin panas saja mataharinya, atau hanya perasaan saya saja saya juga tidak tahu, tapi rasanya memang begitu. Kami disambut Andika, yang membawa Andi, kawan baiknya. Dengan sepeda motor kami dibawa menuju kawasan Dermaga, yaitu wilayah tepi laut tempat bongkar muat barang. Tepat dihalaman butik berjudul Ponti Collection kami menunggu kendaraan carteran untuk menuju Tanjung Batu, sebelum menyeberang ke pulau Derawan. Mimi, rekan Anggi sudah menunggu kami dengan senyum manisnya, dialah yang bersusah payah mencarikan mobil carteran hari itu.

Cuaca panas dan silau sekali. Suasana kota Berau cukup sepi, lalu lintas lengang karena penduduknya memang sedikit. Mobil untuk menuju Tanjung Batu adalah kijang sewaan, yang sekali jalan hanya Rp 50.000. Tapi tentu mobil harus penuh dulu. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam.

Sambil menunggu saya melihat sesosok tubuh yang mencolok. Berkaos merah, celana tanggung, badan tinggi menjulang dengan kulit putih menyilaukan, kaca mata hitam, dan dua ransel yang masing-masing segede badan saya ditekuk tiga. Hampir 1 jam menunggu, saya tidak melihat tanda-tanda orang itu bergerak dari tempat duduknya yang hanya bangku kayu mungil. Dengan sedikit basa basi saya tanyakan hendak kemana (meskipun mudah ditebak pasti kami satua jurusan). Nah..benar saja, dia juga akan ke Derawan. Turis asal Inggris, membawa serta seluruh senjata selam. Sudah pernah ke pulau Derawan, Maratua dan Kakaban 2 minggu sebelumnya, kemudian mengunjungi Sipadan dan Ligitan.

Namanya Richard, dan menurutnya, keindahan bawah laut Sipadan dan Ligitan masih kalah jauh dibanding perairan Berau. Aduh saya jadi makin penasaran. Lalu pertanyaan mendasar, “Sudah sejak kapan menunggu disitu?”. Saya surprised dengan jawabannya. Sudah 3 hari booo! Hohoho….ini sih kelewat. Dan ternyata sodara-sodara, beliau ini sampai di Berau tepat pada hari raya Idul Fitri, juga tepat pada hari saya memulai perjalanan dari Balikpapan. Wajar saja jika tidak ada mobil carteran yang beroperasi untuk umum hingga hari ke3. Sopir-sopirnya kan mau juga beristirahat. Kasihan banget deh ngelihatnya…sumpah! Bule segini ganteng nunggu mobil diterik mentari tropis, sampe kering..ring..ring! Untung saja di tempat itu ada penginapan, seharga Rp 100.000/kamar. Jadi selama 3 hari rutinitas beliau begini: bangun dan sarapan, duduk menunggu mobil hingga petang, kembali ke penginapan-makan malam-tidur. Begitu terus sampai hari ke2.

Akhirnya mobil yang ditunggu datang juga. Anggi, Mimi dan sang sopir berdebat, bahkan kadang keluar rayuan gombal, supaya Richard diijinkan menumpang mobilnya bersama kami. Pertimbangannya hanya satu, bawaan si Bule berat banget, mungkin lebih dari 25kg. Sisopir enggan menyiksa kendaraannya. Dengan penuh perjuangan akhirnya sopir mengangguk. Maka jadilah kami berhimpitan dalam mobil, bersama seorang ibu dan bayinya, alat-alat selam, ransel pakaian, pipa paralon bawaan si supir, dan sekerdus sesajan (well, yang ini titipan. Rupanya masih banyak warga yang sering melarung sajen di laut).

Dua jam perjalanan kami tempuh dengan takjub. Jalanan mulus namun luar biasa berkelok, sangat jarang jalan lurusnya. Kiri kanan tidak ada rumah satupun, hanya deretan hutan dan semak. Sejuk sekali dilihat, hijaunya hutan berpadu dengan langit biru cerah.

Kesimpulan:

Watch on your itenerary! Jangan sampai bertepatan dengan hari raya maupun upacara adat warga setempat, akan repot ketika semua warga libur. Lain halnya jika hari adat tersebut diperuntukkan untuk wisatawan.

Derawan, Aku datang!

October 25, 2007 3 comments


Destination Map

Nasib yang berbelok

Saya selalu percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup kita, tidak ada yang kebetulan. Baik itu musibah, rezeki, pertemuan, dan perpisahan. Itupun yang saya yakini ketika balasan email saya akhirnya membawa saya pada pertemuan pertama dengan Anggi. Pertemuan dadakan tentang rencana jalan yang juga dadakan. Meja makan Pacifica Foodcourt malam itu kami penuhi dengan peta, berbagai catatan dan HP yang bergelimpangan, menyiapkan ‘jajahan’ kami berikutnya ke Tawau, Malaysia.

Keyakinan itu pula yang saya pegang, ketika usaha mencari tumpangan mobil Balikpapan-Nunukan ternyata gagal, hingga akhirnya ‘terdampar’ kemalaman di Palaran, Samarinda. Pertemuan dengan kawan lama saya, Nita, ternyata membawa berkah tersendiri, hingga kami temukan jalan menuju Pulau Derawan, yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Dengan rasa kesal karena gagal ke Nunukan, kembali kami mencari alternatif perjalanan, berhubung hari cuti telah didaftarkan. Tanpa diduga Nita yang adalah kawan lama saya, memperkenalkan kami dengan teman sekampusnya yang asli Berau. Yang kemudian si teman ini memperkenalkan dengan temannya yang sedang bekerja di Berau. Masih dengan benak bertanda tanya kami menghubungi si teman, Andika, seorang PNS muda di Tanjung Redeb. Dengan nada welcome ia menyatakan bersedia membantu kami jika ingin berkunjung ke Pulau Derawan. Malam itu kami putuskan, jika Tawau tidak tercapai, Derawan jangan sampai tidak.

Inspirasi memoar K’tut Tantri

Kalau ada yang pernah membaca memoar K’tut Tantri, pejuang kemerdekaan yang berasal dari Eropa, pasti pernah membaca bagian ketika dia menempuh perjalanan jauh ke Bali, negeri entah berantah hanya bermodalkan setangki bensin dalam mobilnya. Tanpa alasan yang jelas ia memutuskan akan berhenti dan menetap dimanapun mobilnya mogok karena kehabisan bensin. Yang ternyata mobilnya berhenti tepat di depan sebuah istana salah satu raja Bali. Dengan perasaan kaget seorang pangeran menyambutnya. Bayangkan saja, ada mobil yang tidak dikendarai orang Belanda, malahan oleh orang Inggris berambut merah, wanita dan sendirian pula, berhenti di depan kerajaan Bali yang begitu dihormati masyarakat. Sang pangeran geli membayangkan si pengemudi memutuskan nasibnya sesederhana itu, dan bagaimana takdir membuat mereka bertemu.

Kisah itu begitu menggugah saya. Dan sesekali berandai-andai, kapan ya saya bisa melakukan perjalanan sembarangan seperti itu. Eh…tidak disangka kesempatan itu datang. Malam itu, di kamar Nita yang mungil dan harus disesaki kami bertiga, saya berucap, “Aku akan jalan terus, sampai uang di kantong hanya tersisa untuk ongkos pulang”. Yah…meskipun tidak mirip-mirip amat dengan K’tut Tantri tapi setidaknya niatnya sama lah. Kalau dia batasnya bensin, saya batasnya budget. Kalau dia batasnya menetap, saya batasnya pulang. Hehe. Tapi ada satu hal yang saya yakini sama, yaitu bahwa K’tut Tantri tidak mengenal seorangpun di tempat yang akan disinggahinya. Dan begitupun saya, tidak mengenal siapapun yang akan kami temui, dan yang berikutnya akan kami tinggalkan.

Langkah pertama

Besok siangnya, setelah makan dan berleha-leha, kami berangkat menuju terminal bus Lempake, Samarinda. Beristirahat sejenak di Masjid sebelum bus berangkat pukul 17.00, meluruskan punggung sebelum perjalanan panjang selama 17 jam menuju Tanjung Redeb, Kabupaten Berau.

Derawan!!…Aku datang….!!!!

Categories: Derawan note Tags: , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.