Home > Derawan note > Wajah Bajou nan eksotik

Wajah Bajou nan eksotik


Bajou Kids

Sore hari kami tiba di dermaga Tanjung Batu. Bang Iwan, kenalan Andika sudah menyambut kami di dermaga, bersiap membawa kami ke rumahnya di pulau Derawan. Aduh…tidak disangka perkenalan yang hanya lewat ponsel bisa membawa berkah seperti ini. Jadilah saya, Anggi, Richard dan bang Iwan menumpang speed boat selama sekitar 30 menit ke Derawan. Ongkos Rp 200.000 kami bagi berempat.

Perjalanan sungguh indah. Saya belum pernah melihat laut sebiru itu (utamanya karena saya belum banyak travelling), dan sejernih itu. Batas horizon hampir tidak tampak, karena birunya laut dan birunya langit hampir serupa. Kata orang, kadangkala ikan lumba-lumba berlompatan di  sepanjang jalur Tj. Batu-Derawan. Namun sayang kami tidak melihat satupun.

Sampai di Derawan Richard bertanya’ “Are you going to dive?”. Saya bilang tidak, karena saya tidak bisa berenang. Dengan dahi berkerut dia memandang saya sambil tertawa, “And what will you do in such beautifull island if you can’t even swim??!!”. Aahhh…sebel..sebel..sebel. Emangnya kenapa kalo tidak bisa berenang, daratannya saja indah ko. Tapi saya jadi terpikir juga, terus saya mau ngapain? Mau keliling pulau juga sebentar selesai, wong pulaunya kecil sekali. Berendam di pantai saja? Cuma bikin hitam kulit doang terus pulang? Aduh…ko rasanya sia-sia.

Anak-anak kecil mengikuti kami dan bang Iwan hingga kerumahnya, yang ternyata adalah adik-adik bang Iwan sendiri. Anak-anak itu begitu lucu dengan rambut kusutnya, membuat saya lupa akan Richard, yang berpisah dan menuju penginapan Danakan. Kulit mereka coklat, namun tidak legam. Rambut merah terjemur matahari, ceria berlarian di atas pasir yang panas tanpa alas kaki. Itulah anak-anak suku Bajou, suku asli kepulauan Derawan dan sekitarnya.

Wajah-wajah anak Bajou sungguh unik. Kecantikan alami yang tidak kalah dengan teriknya mentari. Saya jadi teringat salah satu potret kebanggaan National Geographic, yaitu sebuah potret gadis Afghanistan berkerudung dengan wajah coreng moreng karena perang, dengan mata biru bersinarnya yang berani. Kurang lebih seperti itulah wajah anak-anak suku Bajou, dengan kulit cokelat terang, rambut kusut lengket oleh uap air laut, namun dengan mata berani dan super ramah.

Begitupun ketika saya melihat Ibunda bang Iwan, pemilik rumah yang kami tumpangi. Wajahnya cantik eksotik, dengan keramahan luar biasa. Caranya mendidik dan berbicara dengan anak-anak begitu lembut, membuat saya takjub. Begitu indahnya komunikasi ibu-anak di belahan bumi yang rasanya sangat jauh dari perkotaan, menyegarkan otak yang terbiasa dengan grasah-grusuhnya orang-orang kota. Kadang kami merasa tidak enak, sebagai orang asing datang-datang minta tumpangan. Tapi selalu disambut kata-kata lembut. Betapa mereka telah terbiasa dengan pendatang. Tapi yang utama, ikan asin goreng dengan acar timunnya itu lho….aduuhhh….ga tahaaannn…

Lalu saya pikir lagi, untuk menikmati keindahan Derawan kan tidak harus berendam, masih banyak sisi humanis yang bisa digali, dan tidak akan didapatkan diver manapun, sebab mereka selalu sibuk dengan penginapan yang menyediakan speed boat menuju dive spot, tempat mandi yang representative untuk bersih-bersih sehabis nyelam, dan berbagai kebutuhan lainnya yang hanya bisa didapat di penginapan komersil.

Kesimpulan:

Yang tidak bisa berenang, DON’T WORRY BE HAPPY!

Categories: Derawan note Tags: , ,
  1. September 9, 2009 at 10:36 am | #1

    sayang kamu gak diving…
    emang disana gak ada fasilitas buat snorkling ya??

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.