Home > Derawan note > Waktunya berendam!

Waktunya berendam!


Waktu membaca novel The Da Vinci Code, disebut-sebut juga nama Kalimantan, mengenai pari Manta-nya. Waktu itu masih tidak terbayang Kalimantan bagian mana. Mendengar kata Kalimantan bisa ada di novel best seller dunia saja rasanya udah berbunga-bunga. Lha kok sekarang baru tahu, Kalimantannya itu ya Kalimantan Timur, propinsi tempat tinggal saya sendiri!.

Ketika tiba waktunya saya bisa berendam – perhatikan sodara-sodara, saya bilang berendam, bukan berenang! ^_^ – saya dan Anggi  mencemplungkan diri di pantai pulau Derawan yang jernih. Mengendap-endap berjalan di belakang penyu-penyu raksasa, yang dalam sekejap ngacir menjauhi kami. Rasanya menyenangkan sekali, karena tentu saja saya jarang berendam di dalam air. Sementara Anggi berenang dengan asiknya.

Berkali-kali bang Agus, pemandu setia kami berteriak dari jembatan, memperingatkan agar kami tidak terlalu jauh ke pantai yang agak dalam. Rupanya pari-pari beracun berkeliaran dengan bebasnya, membahayakan orang-orang yang berenang, sebab sabetan ekornya berbisa. Tapi tentu saja kami tidak akan menemukan pari Manta yang tak beracun di pantai, sebab mereka berukuran besar dan hanya ada di perairan yang lebih dalam. Dan satu lagi, kami harus menghindari kumpulan bulu babi yang juga beracun.

Jujur saja saya tidak pernah ke Sea World, hanya melihat lewat TV. Saya juga tidak pernah snorkeling, dan tidak pernah berenang, meski kota saya adalah kota di garis pantai. Untung saja dalam adegan berendam itu kami bertemu kenalan, yang bersedia meminjami kami kacamata snorkeling secara bergantian. Bahagia sekali melihat jutaan ikan-ikan mungil berwarna-warni. Saya baru tahu kalau ikan yang dari atas terlihat abu-abu, ternyata memiliki warna-warni indah pada sisi kiri kanan tubuhnya, udik yak! Hehe, ya maap. Dengan begitu banyak jenis ikan berseliweran didepan saya, ko jadi terbayang masakan Mama. Bayangin deh, ada ikan Bogor, Biji Nangka, Tongkol, Tembang, Layang, Sardin, Kakap Merah, Kakap Putih, Gembong,  itu kan santapan saya di rumah. Rasanya lucu sekali melihat ikan-ikan santapan saya berenang berputar-putar, seperti mengolok saja.

Cangkang kerang berukuran besar sangat banyak berhamburan di pantai, limbah warga yang memakan isi kerang  (salah satunya malah saya jadikan asbak di rumah). Saya terpesona sekali memandang ikan mungil yang hanya setengah jempol saya, berwarna belang kuning-hitam. Mereka bersembunyian di karang, yang dengan mudah kami tangkap. Dan saya tidak menyangka, ikan-ikan kecil itu cerdik sekali. Ketika saya letakkan dalam cangkang kerang bersama sedikit air laut, dengan penuh semangat si ikan menjentik-jentikkan tubuhnya berkali-kali hingga menedekati tepi cangkang yang kering. Dengan sekali hentakan saja..ceplung…jatuhlah ia kembali ke dalam air laut. Saya hanya bisa melongo, kok ikan ini pintar sekali. Betapa keras dia berjuang kembali ke laut lepas, meski dalam beberapa detik harus menahan napas di udara terbuka. Saya jadi berpikir, ikan saja tidak mau menyerah, apalagi manusia.

Saat kembali ke darat, saya tercengang dengan pemandangan yang lewat didepan saya. Sebuah sosok dengan moncong panjang dan gigi-gigi tajam, digotong hingga 3 orang, panjangnya sekitar 5 meter. Wah sodara-sodara, ternyata itu ikan Barracuda yang baru di angakat dari boat, hasil pancingan salah satu penghuni losmen Danakan. Hiiyy…saya baru tahu Baraccuda itu nyeremin, apa enak dimakan ya??

Derawan, 2007

Categories: Derawan note Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.