Home > Derawan note, Maratua note > Pulau Maratua

Pulau Maratua


Dengan terburu-buru kami sarapan pagi itu, lalu bergegas menuju perahu yang akan kami tumpangi ke pulau Maratua. Perahu tersebut adalah perahu milik warga, yang akan menjemput keluarga besar menghadiri pesta pernikahan. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam.

Pulau Maratua tampak terbentang di hadapan kami, dengan sedikit pantai di bagian luarnya. Pulau Maratua berbentuk huruf U, yang kedua ujungnya menghadap ke laut Sulawesi. Pulau Maratua terdiri atas 5 kecamatan/desa, yaitu Bohe Bukut, Bohe Silian, Payung-Payung, Teluk Telulu dan Tong Bahaba. Suku asli penduduk adalah suku Bajou atau kadang ditulis Badjau. Di dalam pulau Maratua yang berbentuk U, masih terdapat 4 pulau lain yang berjejer, dan salah satunya adalah pulau yang dikelola warga asing dengan resortnya, dikenal dengan nama Pulau Nabuko – sesuai nama resort tersebut – . Sedang nama asli Pulau Nabuko adalah Pulau Pabahanan.

Perahu bersandar di Bohe Silian, ribuan Bulu Babi menghiasi laut dangkal, membuat kami segan menceburkan diri mendorong perahu yang karam. Laut berwarna lapisan biru toska, biru laut, hijau hingga ungu membuat kami begitu terpesona.

Pasir pantai di pulau Maratua bertekstur lebih kasar daripada pasir pantai Pulau Derawan. Luas pantainyapun lebih sedikit, dengan kontur tanah yang tidak rata. Pulau Maratua sebenarnya berbentuk pulau karang, dimana-mana bisa ditemui batu karang. Bahkan warga membangun fondasi rumah dengan batu karang, dan menyemen dengan pasir pantai, sungguh langkah penghematan luar biasa.

Kami menyusuri desa-desa di Pulau Maratua. Masing-masing desa berjarak sekitar 30menit berjalan kaki. Desa-desa tersebut hanyalah susunan rumah di kiri-kanan jalan setapak yang membelah pulau Maratua. Namun meski dengan ruang gerak terbatas, banyak warga yang masih dapat menggunakan sepeda motor. Tapi tentu saja mereka tidak butuh helm, plat nomor, maupun SIM.

Bukit-bukit di pulau Maratua memiliki banyak gua. Salah satunya adalah gua terbesar, yang menurut mitos didiami oleh seekor gurita raksasa. Menurut warga dahulu kala gurita tersebut hanya muncul sekali, dan kemudian lenyap hingga sekarang. Bukit-bukit tersebut dihuni banyak sekali kera dan hewan hutan lainnya. Keheningan pulau Maratua sangat nyaman untuk dinikmati.

Advertisement
  1. January 27, 2010 at 11:12 am | #1

    huhuhuhu…
    sangat ingin sekali kesini…
    huhuhuhu…

    nice travel blog.
    -((www.flifro.wordpress.com))-

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.